Rabu, 19 April 2017

Romantisme Budaya Kota Semarang



Long Weekend kemarin tanggal 14-16 April 2017 nyempetin jelajah sendiri ke wilayah “Semarang bawah” bak pendekar nyasar :D
Walaupun traveling sendirian, ternyata Kota Semarang ga begitu nyusahin sih. Sudah banyak banget review tempat-tempat keceh yang bisa kita tanya sama Google, tinggal buka aplikasi dan say “OK Google” semudah itu. hahaha...
Karena liburan kali ini sama sekali tanpa rencana yang jelas (efek galau berkepanjangan) maka berangkatlah saya naik bus menuju Semarang dari Solo dengan ongkos 25 ribu perak kelas AC ekonomi. Lumayan lancar jalanan di akhir week end itu, berangkat jam 15.30 WIB dari Solo saya touch down Semarang di kawasan Banyumanik sekitar jam 19.00 WIB.
Nah, urusan Transportasi, Semarang sudah punya Bus Trans Semarang yang mungkin mirip-mirip Busway di Jakarta atau Trans Jogja gitu deh. Tapi karena saya agak males untuk beribet-ribet, akhirnya aplikasi ojek online yang menjadi pilihan saya menjelajah Semarang di liburan kali ini. Selain gampang aplikasinya, juga dianter langsung ke tempat tujuan, ini semacam “short cut” buat yang travel sendirian dan rada galau kalau harus baca peta atau rute Bus umum yang biasanya seribet kisah cinta saya. Eh.
Karena sampai sudah malem, saya langsung meluncur ke kost teman di wilayah Tembalang (Kampus Undip) dengan bantuan abang ojek tentunya. Rejeki banget biar ngirit ongkos liburan kamu bisa nebeng di tempat teman atau bisa juga join di couch surfing. Kalau saya lebih seneng nebeng di temen yang sudah kita kenal, berasa lebih aman saja sih. Hehe.
Pagi jam 09.00 WIB saya meluncur dari tembalang naik ojek dengan modal panduan wisata Google ke wilayah Semarang bawah. Tujuan hari ini: Sam Poo Kong dan Lawang Sewu. Karena lagi tanggal merah alias libur nasional, jadi deh tempat-tempat wisata ini rame pengunjung (hari biasa kayaknya rame juga sih ya).

  
Sam Poo Kong
Terletak di kawasan Simongan, untuk masuk ke lokasi ini kita hanya perlu beli tiket 8 ribu perak untuk dewasa, kalau mau lihat sampai ke dalam lokasi sembahyang bisa pakai tiket terusan sekitar 24 ribu aja (untuk turis domestik).
Tempat wisata ini dari pertama liat di internet sih yang menarik adalah tentang akulturasi budayanya ya. Sampai lokasi disambut dengan gerbang ala-ala China dengan tulisan megah, dominasi warna merah dan hijau yang dianggap warna keberuntungan etnis Tiongkok. Nah, dari informasi yang saya dapat sih, Sam Poo Kong ini adalah semacam petilasan yang dibangun oleh Laksamana Cheng Ho dari Tiongkok. Bangunan ini sekarang selain dijadikan tempat wisata, juga dipakai sebagai tempat sembahyang Teman-teman yang beragama Kong Hu Chu. Walaupun ada sejarah yang mengatakan bahwa Laksamana Cheng Ho adalah seorang muslim. Jadi bisa sekalian belajar sejarah kan ya? hehe
Di tempat ini jadi berasa kaya di Tiongkok beneran deh, bangunanya megah banget. Terus buat yang suka foto dan cari spot yang instagramable bisa coba main kesini deh. Spot foto pun sudah dikasih tanda biar kamu semua bisa maksimal foto-foto dengan hasil yang bagus.
Saya sempet coba-coba selfie, tapi kurang maksimal karena lanskap nya kan bangunan yang gedhe-megah jadi ga gitu maksimal. Alhasil bolehlah minta tolong ke pengunjung lain dong, dasarnya rejeki anak salihah ya ada aja yang mau bantu fotoin. Sudah gitu akhirnya saya nemu teman jalan juga disana yang kemudian jadi jalan bareng ke beberapa lokasi wisata selanjutnya. What a luck!
Puas berfoto-foto akhirnya saya memutuskan pindah ke lokasi selanjutnya. Bareng my new travel mate dong yaaaa....

 

Lawang Sewu
Nah, kenapa Lawang Sewu? Karena saya penasaran dengan review di internet tentang tempat wisata ini. So, meluncurlah saya dengan abang ojek dari Sam Poo Kong sekitar 10 menit lah. Tiket masuk 10 ribu saja teman-teman!!
Lokasinya di sebelah Tugu Muda, Land Mark Kota Semarang di daerah Sekayu. Pertama masuk langsung takjub dengan bangunan kuno peninggalan Belanda ini, bagus dan terawat. Dan ramai sekali pengunjung yang asik foto, selfie sampai preweed, lengkap dan riuh.
Akhirnya mulai menyadari kenapa namanya Lawang Sewu (Pintu Seribu) karena memang pintunya banyak banget! Menyusuri gedung ini emang berasa kaya noni-noni Belanda. Hahahah.
Bangunan ini awalnya diperuntukkan sebagai Statsiun kereta api pada jaman Belanda, lalu beralih fungsi menjadi kantor dan juga penjara bawah tanah jaman PKI. Saya ga tau mesti sedih atau bahagia pas tau kalau ruang bawah tanahnya sedang ditutup untuk kunjungan. Jadi saya lanjut jalan menyusuri bangunan kuno yang indah ini. Gedung pertama dengan hiasan jendela besar dipasangi kaca patri yang indah-indah berasa kaya di luar negeri deh! Langsung foto jeprat jepret walaupun hasilnya amburadul ga jelas mana muka mana jendela. Hahaha.
Gedung selanjutnya lebih seperti museum mini tentang kereta api di Indonesia gitu, ada juga tayangan video di televisi plasma (sayangnya keterangan videonya dalam bahasa Belanda  -____- ). Di ruangan itu kita bisa tahu tentang awal pembangunan Lawang Sewu dan beberapa stasiun kereta Lain di Indonesia.
Setelah lelah muterin gedung dengan naik turun tangga kita disuguhi musik keroncong di halaman tengah Lawang Sewu. Wusshhh.. angin sepoi-sepoin dan musik yang asik bikin liburan di Semarang ini memorable banget!

 
berpose di area museum mini lawang sewu

Tahu Gimbal
Nah, ini kuliner yang wajib teman-teman cari pas main ke Semarang. Lontong dengan sayur bumbu kacang, bakwan isi udang dan juga kerupuk udangnya endess banget. Kalau dari informasi yang dihimpun dari internet sih kawasan Masjid Agung Jawa Tengah ada yang jual Tahu Gimbal enak, jadi meluncurlah saya kesana. Lumayan jauh tapi worth it lah ya, dapat makanan enak dan sekalian bisa mampir Masjid Agung Jawa Tengah yang arsitekturnya mirip sama masjid Nabawi. hehe
Weisshhh... sekian dulu cerita jalan Semarang-nya yaaa... eh iya, satu lagi pengalaman asyiknya nih. Naik kereta pulang ke Solo dari Semarang.
Stasiun Tawang
Nah, buat yang mau nglengkapin edutravel liburan belajarnya bisa nyobain naik kereta dari stasiun Tawang ke stasiun Balapan Solo. Sumpah pemandanganya asik banget! Saya naik dari stasiun Tawang pukul 09.11 WIB, pas kereta Kalijaga jalan rasanya rada miring gitu, gerbongnya, ternyata oh ternyata itu karena rel di Stasiun Tawang ini kena abrasi rob. Tau ga sih rasanya naik kereta tapi sampingnya rawa yang lebih mirip danau? Naik kereta rasa naik perahu gitu, pokoknya beda banget!
Selamat (pura-pura) traveling!!

 

Tulisan ini disertakan dalam lomba Blog Legenda Pariwisata Jawa Tengah 2017 Yang Diselenggarakan Oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga Dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah
#BlogJateng201 #JatengGayeng #LegendaPariwisata
 

Tidak ada komentar: