"Kapan Nikah?"
Pertanyaan itu sering terlontar ketika ada saudara, teman sebaya atau
bahkan lebih muda dari kita menikah. Sejatinya menikah itu jodoh yang
dirahasiakan Tuhan, seperti yang saya kutip dari seorang penulis bahwa
yang namanya rahasia Tuhan, manusia pasti tidak akan pernah tahu. Kenapa
pertanyaan ini menjadi begitu sensitif untuk beberapa orang? Tentu
saja, di lingkungan kita—saya—mungkin usia 28 (lebih) tahun seorang
perempuan (dianggap) sudah siap menikah. Padahal—menurut saya—pernikahan
itu lebih pada soal kedewasaan. Umur boleh angka besar dan banyak, tapi
soal pemikiran, siapa yang bisa menjamin?
Bagi saya menikah tidak seperti balap karung. Lomba siapa yang harus
sampai garis finish lebih dulu. Start anda juga penting. pun begitu,
bukan berarti saya juga tidak ingin menikah, munafik kalau saya
mengatakan saya tidak ingin menikah. Tapi kembali lagi, ini soal
ketetapan hati, setiap orang pasti berbeda (cari alasannya).
Saya belajar banyak dari melihat lingkungan sekitar saya, kawan-kawan
saya yang menikah muda atau bahkan adik-adik saya yang ‘terpaksa’
menikah akibat tak tahan godaan asmara.
Ada dari mereka yang bahkan masih berusia dibawah 17 tahun ketika
menikah. Sungguh, lingkungan kita—saya—kini cukup mengkhawatirkan.
Adakah yang salah dari lingkungan kita? Saya sering bertanya kenapa
anak-anak semuda itu memutuskan untuk, ya saya akan menikah, tapi
kemudian muncul fenomena—hamil duluan. Hal ini membuat saya berpikir
bahwa pernikahan tidak seperti apa yang saya pikirkan tentang
‘pernikahan’ itu sendiri. Tentu saja saya menghormati mereka yang
memilih menjalankan perjodohan seperti orang tua dulu, saya juga
menghormati orang yang memilih untuk saling mengenal terlebih dahulu
sebelum memutuskan untuk kemudian mengatakan ‘ya, saya akan menikah’.
Hal-hal yang sudah direncanakan saja bisa gagal, apalagi untuk
anak-anak muda yang ‘terpaksa’ dinikahkan. Banyak dari mereka menyesal
kehilangan masa muda untuk bergaul, bermain, hura-hura dan bercanda
dengan kawan sebaya. Mereka kemudian harus masuk dalam kondisi yang
mungkin mereka tak pernah membayangkan sebelumnya, rumah tangga. Ada
yang kemudian pulang ke rumah orang tua karena ribut dengan suami yang
sebenarnya diakibatkan masalah sepele. Yah, maklum saja mereka masih
anak-anak. Mungkin mereka belum banyak belajar tentang manajemen krisis,
mereka diharapkan untuk learning by doing diwaktu yang—mungkin—belum
saatnya mereka hadapi. Lalu apakah yang ada dalam benak mereka tentang
pernikahan? Apakah sama dengan yang saya pikirkan? Entahlah.
Kemudian ada kawan-kawan saya yang memutuskan menikah muda di usia
mereka yang masih 20an. Mereka tentu merencanakan, ada yang sudah
pacaran sejak SMA. Mereka tentu ingin menikah, menjadikan hubungan yang
halal dimata TUHAN dan diakui oleh negara. Mereka berpikir mau mencari
apa lagi, lelaki sudah mapan, perempuan sudah siap. Mereka –mungkin
hanya—akan kehilangan masa muda hura-hura dengan merawat bayi, atau
mereka bisa menikmati hura-hura dalam keluarganya.
Masalah tentu saja ada dalam pernikahan mereka. Usia muda dianggap
masih labil, kedewasaan yang belum matang—sekali lagi ini bukan soal
usia, ada yang kemudian masih bertingkah seperti bocah. Lelaki yang
seharusnya menanggung hidup perempuan—istri—dan juga anak terkadang
masih asik nongkrong dengan teman-teman sebaya mereka sepulang kerja.
Keributan berakhir di awang-awang tanpa penyelesaian karena susah untuk
mengalah. Masalah kian bertumpuk karena yang satu menyembunyikan
pekatnya dari yang lain hingga semua membuncah dan meledak di satu
waktu. Mereka yang sanggup menyelesaikannya mungkin menjadi lebih kuat
dan lebih dewasa, tapi bagi yang tidak mampu? Mereka semakin linglung,
mungkin merasa malu dengan keputusannya, mungkin bingung harus bertanya
pada siapa. Apakah esensi sebuah ‘pernikahan’ bagi mereka?
Menikah, menjadi sebuah kata yang begitu sensitif untuk beberapa
orang. Pernikahan itu akan menjadi sangat berbeda untuk setiap individu.
Bagi saya pernikahan itu luar biasa indah, sesuatu yang harus
dipikirkan dengan masak, baik dengan siapa dan akan menjadi apa
kehidupan pernikahan itu.
Karena menikah itu ketika anda telah siap untuk
mencintai, untuk jatuh cinta kepada orang yang sama untuk berkali-kali
dalam waktu yang lama. Seumur hidup anda.
Mungkin akan membosankan, tapi anda harus tahu bagaimana untuk
menghidupkan kembali perasaan itu. Ketika telah memutuskan, ‘ya, saya
akan menikah’ anda akan berhadapan dengan kondisi baru, dua kepala yang
berbeda isinya, dua sifat yang mungkin mirip atau justru berkebalikan.
Anda akan mulai—harus—menanyakan kesiapan membangun manusia-manusia
baru—anak-anak anda—yang tentu saja menjadi tanggung jawab kalian
berdua.
Pernikahan itu ibadah dengan esensi keagamaan, sosial sekaligus privat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar