Minggu, 13 Maret 2016

Kapan Nikah?



"Kapan Nikah?"
Pertanyaan itu sering terlontar ketika ada saudara, teman sebaya atau bahkan lebih muda dari kita menikah. Sejatinya menikah itu jodoh yang dirahasiakan Tuhan, seperti yang saya kutip dari seorang penulis bahwa yang namanya rahasia Tuhan, manusia pasti tidak akan pernah tahu. Kenapa pertanyaan ini menjadi begitu sensitif untuk beberapa orang? Tentu saja, di lingkungan kita—saya—mungkin usia 28 (lebih) tahun seorang perempuan (dianggap) sudah siap menikah. Padahal—menurut saya—pernikahan itu lebih pada soal kedewasaan. Umur boleh angka besar dan banyak, tapi soal pemikiran, siapa yang bisa menjamin?
Bagi saya menikah tidak seperti balap karung. Lomba siapa yang harus sampai garis finish lebih dulu. Start anda juga penting. pun begitu, bukan berarti saya juga tidak ingin menikah, munafik kalau saya mengatakan saya tidak ingin menikah. Tapi kembali lagi, ini soal ketetapan hati, setiap orang pasti berbeda (cari alasannya).
Saya belajar banyak dari melihat lingkungan sekitar saya, kawan-kawan saya yang menikah muda atau bahkan adik-adik saya yang ‘terpaksa’ menikah akibat tak tahan godaan asmara.
Ada dari mereka yang bahkan masih berusia dibawah 17 tahun ketika menikah. Sungguh, lingkungan kita—saya—kini cukup mengkhawatirkan. Adakah yang salah dari lingkungan kita? Saya sering bertanya kenapa anak-anak semuda itu memutuskan untuk, ya saya akan menikah, tapi kemudian muncul fenomena—hamil duluan. Hal ini membuat saya berpikir bahwa pernikahan tidak seperti apa yang saya pikirkan tentang ‘pernikahan’ itu sendiri. Tentu saja saya menghormati mereka yang memilih menjalankan perjodohan seperti orang tua dulu, saya juga menghormati orang yang memilih untuk saling mengenal terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk kemudian mengatakan ‘ya, saya akan menikah’.
Hal-hal yang sudah direncanakan saja bisa gagal, apalagi untuk anak-anak muda yang ‘terpaksa’ dinikahkan. Banyak dari mereka menyesal kehilangan masa muda untuk bergaul, bermain, hura-hura dan bercanda dengan kawan sebaya. Mereka kemudian harus masuk dalam kondisi yang mungkin mereka tak pernah membayangkan sebelumnya, rumah tangga. Ada yang kemudian pulang ke rumah orang tua karena ribut dengan suami yang sebenarnya diakibatkan masalah sepele. Yah, maklum saja mereka masih anak-anak. Mungkin mereka belum banyak belajar tentang manajemen krisis, mereka diharapkan untuk learning by doing diwaktu yang—mungkin—belum saatnya mereka hadapi. Lalu apakah yang ada dalam benak mereka tentang pernikahan? Apakah sama dengan yang saya pikirkan? Entahlah.
Kemudian ada kawan-kawan saya yang memutuskan menikah muda di usia mereka yang masih 20an. Mereka tentu merencanakan, ada yang sudah pacaran sejak SMA. Mereka tentu ingin menikah, menjadikan hubungan yang halal dimata TUHAN dan diakui oleh negara. Mereka berpikir mau mencari apa lagi, lelaki sudah mapan, perempuan sudah siap. Mereka –mungkin hanya—akan kehilangan masa muda hura-hura dengan merawat bayi, atau mereka bisa menikmati hura-hura dalam keluarganya.
Masalah tentu saja ada dalam pernikahan mereka. Usia muda dianggap masih labil, kedewasaan yang belum matang—sekali lagi ini bukan soal usia, ada yang kemudian masih bertingkah seperti bocah. Lelaki yang seharusnya menanggung hidup perempuan—istri—dan juga anak terkadang masih asik nongkrong dengan teman-teman sebaya mereka sepulang kerja. Keributan berakhir di awang-awang tanpa penyelesaian karena susah untuk mengalah. Masalah kian bertumpuk karena yang satu menyembunyikan pekatnya dari yang lain hingga semua membuncah dan meledak di satu waktu. Mereka yang sanggup menyelesaikannya mungkin menjadi lebih kuat dan lebih dewasa, tapi bagi yang tidak mampu? Mereka semakin linglung, mungkin merasa malu dengan keputusannya, mungkin bingung harus bertanya pada siapa. Apakah esensi sebuah ‘pernikahan’ bagi mereka?
Menikah, menjadi sebuah kata yang begitu sensitif untuk beberapa orang. Pernikahan itu akan menjadi sangat berbeda untuk setiap individu. Bagi saya pernikahan itu luar biasa indah, sesuatu yang harus dipikirkan dengan masak, baik dengan siapa dan akan menjadi apa kehidupan pernikahan itu.
Karena menikah itu ketika anda telah siap untuk mencintai, untuk jatuh cinta kepada orang yang sama untuk berkali-kali dalam waktu yang lama. Seumur hidup anda.
Mungkin akan membosankan, tapi anda harus tahu bagaimana untuk menghidupkan kembali perasaan itu. Ketika telah memutuskan, ‘ya, saya akan menikah’ anda akan berhadapan dengan kondisi baru, dua kepala yang berbeda isinya, dua sifat yang mungkin mirip atau justru berkebalikan. Anda akan mulai—harus—menanyakan kesiapan membangun manusia-manusia baru—anak-anak anda—yang tentu saja menjadi tanggung jawab kalian berdua.
Pernikahan itu ibadah dengan esensi keagamaan, sosial sekaligus privat

Jumat, 11 Maret 2016

Kau Tahu Tidak?



Kau tahu tidak, aku ini terbuat dari baja. Baja tidak berperasaan yang tidak akan sakit dengan cacian ataupun pandangan menyedihkan itu.
Kau tahu tidak, aku tidak punya hati. aku tidak mendendam dan mengumpulkan rasa sakit untuk membenci orang lain.
Kau tahu tidak, aku bisa menghilang. Aku bisa dengan tiba-tiba berada di tempat yang jauh sekali di pikiranku meninggalkan keriuhan ragaku.
Kau tahu tidak, aku bisa larut menjadi partikel kecil yang tak terlihat. Aku bisa dengan tiba-tiba tidak ada di depan mata diabaikan begitu saja.
Kau ahu tidak, aku memiliki duniaku sendiri yang isinya cuma aku, kamu dan orang-orang yang membenciku. tapi kau tahu tidak, aku suka sekali ada di dalamnya. Aku suka sekali mengembara di dunia itu. Di dunia dimana semua orang membeciku, tapi hidupku selalu mudah karena ada dirimu.
Seperti terus berputar dalam otakku, tak sejenak pun berhenti. Memaksaku larut dalam khayalan-khayalan. Membuatku kehilangan kesigapan dari dunia nyata disekelilingku. Aku larut di dalamnya. Semua yang perputar di sekelilingku itu menjadi tidak nyata. Bagaimana itu terjadi? Aku akan terdiam sejenak, kembali ke dunia nyata. Tersenyum dan menertawakan diri-sendiri lalu kembali ke dunia liar itu lagi. Dunia nyata ini terkadang sungguh membosankan. Warnanya itu-itu saja, putih, hitam, dan abu-abu. Padahal aku suka warna hijau, kuning, dan merah. Seperti lampu lalu lintas. Lalu aku memutuskan kembali lagi ke dunia itu, dimana hanya ada aku, kamu dan orang-orang yang membenciku.
Kau tahu tidak, aku suka sekali bermimpi.

Sukoharjo 17 Desember 2012

“Aku mencintaimu.”




"Aku mencintaimu."
Ini bukan untukmu,
Tapi untukku sendiri.
Biar rasa ini tersampaikan,
meski mungkin tak berbalas.

Tuhan Yang Mana?



Malam yang yang terang bersama bulan hampir penuh berkawan bintang-bintang kerlap-kerlip. Kami duduk bersampingan di depan teras rumah sederhanaku. Kami kehilangan kata-kata setelah sekian lama memperdebatkan hal yang sama, berkali-kali mencari jalan dari kerumitan ini dan berkali-kali terhenti di ujung yang sama. Sepertinya malam yang baik ini semuanya akan menemukan solusi sehingga kami tak perlu menarik urat leher untuk berargumen, untuk sekedar menemukan titik temu dari tujuan kami. Tentang cara kami memahami, mencintai.
“Maafkan aku Cah ayu, bukan maksud hati mengakhiri semua seperti ini. Engkau tentu tau betapa Kangmas juga telah berusaha semampu Kangmas untuk meyakinkan kedua orang tua. Meyakinkan diri kita sendiri juga tentunya.”
Lelaki muda itu seperti tak sanggup untuk menatap kedalam mataku, bahkan ia terus tertunduk. Wajahnya yang selalu cerah kini pudar dengan pucat kekhawatiran. Aku hanya melirik ke arahnya, tak sanggup berkata-kata untuk sekian lama. Entahlah, aku tak tau kemana dan berapa lama lagi waktu mampu berlalu dalam kebekuanku.
Air mataku menetes, kemudian mengalir membanjir dipipiku. Aku tak sanggup lagi menahannya. Tangis ini mungkin menjelaskan apa yang tak bisa kukatakan. Lelaki muda itu kemudian berdiri dari tempat duduknya, menghampiriku. Ia bersimpuh di depanku, ia memelukku. Ia terdiam, tak ada kata-kata, tak ada tatap mata, hanya sebuah pelukan.
“Jangan menangis cah ayu. Jangan kau buat aku makin merana. Sudah, hentikan tangismu,” ia berbisik ke telingaku dengan lembut.
Tangisku belum berhenti. Aku belum sanggup berkata-kata. Ia kemudian menegkkan tubuhnya. Masih bertekuk di lututnya, kini ia memandang kewajahku. Matanya berkaca-kaca, tapi ia tidak menangis. Lelaki tidak menangis, mungkin seperti itu. Aku masih saja sesenggukan, ia kemudian tersenyum, menyeka air mata yang terus meluncur dipipiku.
Aku terus mengingat-ingat pertama kali kami bertemu, apa saja yang selalu kami bicarakan, apa yang sering kami lakukan bersama, tentang mimpi-mimpi kami, tentang apa yang kami inginkan. Bayangan-bayangan it uterus saja berkelebat dikepalaku, seolah mereka pun tak ingin berakhir. Mereka, seperti aku, mungkin juga seperti kangmas, kami tak tahu apa yang bias kami lakukan lagi. Kami pikir kami telah melakukan segalanya untuk memperjuangkan penyatuan hati kami. Kami telah berusaha merangkai simpul-simpul perbedaan yang memperindah jalinan kasih kami. Pada akhirnya tidak semua hal akan seindah yang kami inginkan, bahkan cinta pun tak sanggup lagi menjembatani perbedaan ini.
“Kangmas, bukankah Tuhan itu penuh kasih. Tidak ada yang tidak bias dilakukan oleh Tuhan kan?” kata-kata itu keluar dari bibirku yang terus bergetar menahan tangis.
Senyum lelaki itu mengembang. Bukan untuk menunjukkan suasana hati yang membaik, itu hanya sekedar untuk menenagkankau. Tanganya kemuia meraih tanganku. Menggenggamnya erat, seperti tak hendak dilepas. Mata kami bertemu. Sendu.
“Cah ayu, aku tentu meminta pada Tuhan dalam setiap do’a, dan aku yakin kau juga begitu. Tapi Cah ayu, terkadang Kangmas juga ragu apakah kita meminta pada Tuhan yang sama.” Mulutnya kemudian terkatup lama.
Aku mencermati kata-katanya, berusaha menemukan maknanya. Aku mungkin tersesat dalam pencarian itu, atau aku memang terhenti. Aku tak ingin mencari. Yah, benar. Apakah kami meminta pada Tuhan yang sama? Bukankah karena cara kami memaknai Tuhan, cara kami mencintai Tuhan yang membedakan kami? Dan perbedaan ini yang tak kami temui penyatuaanya. Hingga kini.
Rasanya aku ingin tertawa saja. Tuhan kami itu, memisahkan kami juga. Dan kalau Tuhan berkehendak, kami ini, manusia-manusia yang tak mungkin menghindari takdir-Nya.
Pembicaraan-pembicaraan ini tak pernah menemui akhir. Selalu berhenti di titik ini, berkali-kali, berputar-putar, jalan buntu. Seperti mimpi, kami ingat sepotong-sepotong dan lupa sebagian. Ternyata perbedaan yang indah itu tak selalu menyatukan, terkadang ia benar-benar memisahkan, menciptakan jurang, meluaskan samudra dan jarak.
Dan pembicaraan ini hanya sampai disini, kami mungkin menyerah kali ini, dan Tuhan, maafkan kami. Maafkan kami untuk beberapa kali menafikan-Mu. Maafkan kami Tuhan.
“Cah ayu, aku akan tetap setia pada Tuhanku, dan kau teruslah mencintai Tuhanmu. Kita tak harus menyatukan hati kepada Tuhan yang sama penyebutannya, sama cara mencintainya, dan sama menujunya. Aku tahu Cah ayu, Tuhan kita itu baik.” Itu kata-kata terakhirnya untuk menutup perbincangan malam kami. Dan kami tak hendak bertanya mengapa kami berbeda dan tentang Tuhan kami, biarlah kami belajar terus memahami.