“Kamu bukan
Maryam!” setengah berbisik tapi dengan tatapan tajam.
“Setiap anak ada Bapaknya! Siapa?! Jangan diam saja, kau jangan mau dipermainkan lelaki,” ia terus menambahi. Seperti drama monolog dengan dua pemain.
“Setiap anak ada Bapaknya! Siapa?! Jangan diam saja, kau jangan mau dipermainkan lelaki,” ia terus menambahi. Seperti drama monolog dengan dua pemain.
Aku
memandangi wajah perempuan itu, menangislah dia menatap keluar jendela, dari
mulutnya terus tergumam. Ali, ibu kangen. Aku tak habis pikir ada apa dengan
perempuan itu. Aku merasa mengenalnya sekian lama, tapi hari ini aku melihat
seseorang yang berbeda. Rapuh dan hampir hancur. Aku mencoba mendekatkan posisi
dudukku denganya. Mencoba melihat ke arah yang sama. Ke luar jendela, hanya
langit biru dan awan tipis yang berarak pelan. Aku diam mendengarkan ia
menggumamkan sebuah nama terus menerus. Menangis, dan kembali menggumam seolah
dengan begitu akan membuat yang disebut akan datang ke pangkuanya.
Sekelompok anak-anak melintas, memandangi kami dari jendela Sambil berbisik-bisik kemudian tertawa geli. Aku tersenyum, kecut.
Sekelompok anak-anak melintas, memandangi kami dari jendela Sambil berbisik-bisik kemudian tertawa geli. Aku tersenyum, kecut.
“Apa aku
terlihat gila?” Bisiknya sontak mengagetkanku.
Aku terdiam,
bingung harus mencari segerombolan kata yang pas. Tak berhasil. Aku tetap diam.
“Aku hanya
mau Ali, anakku. Aku tak peduli dengan selainya. Ambilah apa saja, tapi bukan
anakku,” ia kembali menitikkan air mata.
Lalu hening.
Lelaki yang sedari tadi duduk bersama kami pun mungkin sudah muak, kemudian ia
segera pergi meninggalkan kami dalam bilik berjendela jeruji. Aku dan perempuan
ini, tak saling menatap tapi melihat ke arah yang sama hening tanpa suara.
Takzim.
“Aku akan membunuhnya!”
Tiba-tiba ia berbisik kepadaku.
“Ya, aku
akan membunuhnya ndah. Kau harus membantuku. Aku akan membunuhnya dan membawa
kembali Ali ku.” Tawanya pelan tapi menakutkanku.
Aku hanya
menelan ludah. Siapa yang harus kami bunuh? Ali itu tak pernah ada. Bagaimana
kami harus meyakinkan perempuan itu?? Itu semua hanya mimpinya, yang hancur.
Perempuan itu harus tau.
Aku tak
berani menatapnya, tatapan matanya sungguh menakutkanku.
Pada malam
itu aku tidur menyamping menghadap sebuah almari dengan cermin besar, aku
menatap perempuan itu melalui cermin almari. Aku diam saja, terlalu takut aku
memejamkan mata. Tapi tak sanggup tertidur, kemudian aku dan perempuan itu
saling menatap lewat cermin.
“Aku harus
membunuhnya ndah,” berkata perempuan itu sambil menatapku melalui cermin.
Pikiranku tak
karuan, tak tahu harus melakukan apa.
“Kau tahu
rasanya dikhianati Ndah? Kamu ingat dia sudah berjanji, tapi apa? Dia terus
saja mencari alasan, bahkan sekarang menghilang membawa Ali. Satu-satunya yang
ku milikki, Ali!” suaranya pelan tapi dengan emosi yang aku tahu sangat
tertekan.
Aku menatap
mata perempuan itu melalui cermin, penuh kemarahan. Ya, sebuah kebencian yang
terlahir dari rasa cinta yang terlalu dalam. Tapi aku tahu betul perempuan itu
tak bisa benar-benar membeci lelaki itu, lelaki yang dibaginya mimpinya,
satu-satunya mimpinya dan kemudian hilang membawa serta mimpinya itu. Ali.
“Ndah, apa
kau bisa hidup bahagia tanpa mimpi? Hidup macam apa yang akan kau punya? Raga tak
berjiwa?” perempuan itu kembali berbisik.
Tentu saja
aku bisa hidup tanpa mimpi, aku bisa menjadi bagian dari mimpi-mimpi orang
lain, membesarkan mimpi mereka, dan mungkin akan ada orang baik yang akan
bersedia membagi mimpinya denganku, seperti perempuan itu yang telah membai
mimpinya pada lelaki itu. meski kemudian entah bagaimana nasib impian itu, Ali.
Ah, Ali, impian besar perempuan itu yang disimpanya rapat sejak dulu dalam
hati, setelah berani membuka hati tapi dikecewakan lagi. Malang benar nasibmu. Aku
hampir tak percaya, selama ini perempuan itu adalah orang yang paling rasional,
bahkan ketika aku terlalu terbawa emosi perempuan itu akan mengingatkan. Sebelumnya
perempuan itu adalah orang yang hampir tak pernah menangis dihadapan orang
lain, terlihat kuat dan selalu membawa bahagia, dia adalah perempuan yang tak
pernah takut memaki diri sendiri. Kini perempuan itu adalah orang yang berbeda.
Tapi aku tak pernah berani menyanggahnya. Aku terlalu takut.
Ah, dulu
perempuan itu begitu girangnya hanya dengan nonton sepak bola dilayar kaca,
memaki pemain yang bermain seadanya, sampai guyonan sarkastik yang kadang
sangat intelegensia. Aku kagum dengan perempuan itu, sebelumnya. Tapi kini
perempuan itu seperti raga dengan nyawa tapi tanpa jiwa, kalau tidak menangis
dia mengeluh, atau sakit dan harus dibawa ke dokter. Aku ingat sekali,
sebelumnya ia seperti kembang api. Cahayanya meledak tinggi ke langit,
membahagiakan yang melihat. Kini ia berbeda. Tapi aku seperti tak bisa apa-apa.
”Hanya kau
yang bisa melakukanya Ndah, kau harus membantuku. Tolonglah aku,” tatapanya
memelas. Aku harus kuat.
Aku berpikir
keras, aku lihat betapa perempuan itu menderita. Menunggu setiap hari dibalik
jendela, menunggu yang mungkin tidak datang. Aku tau pasti sangat sakit rasanya
mempercayai sesuatu yang pada akhirnya tidak benar-benar ada, bahkan
orang-orang menyebut perempuan itu gila. Gila, kasihan sekali bukan?
Perempuan itu
hanya akan menjadi luka bagiku, aku harus membunuhnya. Aku tak perlu mencari
lelaki itu dan membunuhnya kemudian mengambil Ali, itu mungkin tidak berhasil,
dan tentu aku akan jadi penjahat. Lebih baik kubunuh perempuan itu dan semuanya
selesai. Aku tenang dan lelaki itu bisa bebas, walaupun aku tak tahu bagaimana
nasib Ali nantinya. Apakah aku bisa kembali menemukanya, atau mugkin lelaki itu
akan menjaga Ali dengan baik. Aku harus melepaskanya, bagaimanapun caranya.
Aku menunggu
hingga senyap, hingga perempuan itu tidak bersuara. Lalu aku membunuhnya. Ya,
aku membunuhnya.
-
Aku terbangun
dengan diriku sendiri, perempuan itu telah mati.
Aku keluar
dari kamarku, menyapa kakak lelakiku. Ia sepertinya kaget melihatku, tersenyum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar