Malam yang yang terang bersama bulan hampir
penuh berkawan bintang-bintang kerlap-kerlip. Kami duduk bersampingan di depan
teras rumah sederhanaku. Kami kehilangan kata-kata setelah sekian lama
memperdebatkan hal yang sama, berkali-kali mencari jalan dari kerumitan ini dan
berkali-kali terhenti di ujung yang sama. Sepertinya malam yang baik ini
semuanya akan menemukan solusi sehingga kami tak perlu menarik urat leher untuk
berargumen, untuk sekedar menemukan titik temu dari tujuan kami. Tentang cara
kami memahami, mencintai.
“Maafkan aku Cah ayu, bukan maksud hati
mengakhiri semua seperti ini. Engkau tentu tau betapa Kangmas juga telah
berusaha semampu Kangmas untuk meyakinkan kedua orang tua. Meyakinkan diri kita
sendiri juga tentunya.”
Lelaki muda itu seperti tak sanggup untuk
menatap kedalam mataku, bahkan ia terus tertunduk. Wajahnya yang selalu cerah
kini pudar dengan pucat kekhawatiran. Aku hanya melirik ke arahnya, tak sanggup
berkata-kata untuk sekian lama. Entahlah, aku tak tau kemana dan berapa lama
lagi waktu mampu berlalu dalam kebekuanku.
Air mataku menetes, kemudian mengalir
membanjir dipipiku. Aku tak sanggup lagi menahannya. Tangis ini mungkin
menjelaskan apa yang tak bisa kukatakan. Lelaki muda itu kemudian berdiri dari
tempat duduknya, menghampiriku. Ia bersimpuh di depanku, ia memelukku. Ia
terdiam, tak ada kata-kata, tak ada tatap mata, hanya sebuah pelukan.
“Jangan menangis cah ayu. Jangan kau buat
aku makin merana. Sudah, hentikan tangismu,” ia berbisik ke telingaku dengan
lembut.
Tangisku belum berhenti. Aku belum sanggup
berkata-kata. Ia kemudian menegkkan tubuhnya. Masih bertekuk di lututnya, kini
ia memandang kewajahku. Matanya berkaca-kaca, tapi ia tidak menangis. Lelaki
tidak menangis, mungkin seperti itu. Aku masih saja sesenggukan, ia kemudian
tersenyum, menyeka air mata yang terus meluncur dipipiku.
Aku terus mengingat-ingat pertama kali kami
bertemu, apa saja yang selalu kami bicarakan, apa yang sering kami lakukan
bersama, tentang mimpi-mimpi kami, tentang apa yang kami inginkan. Bayangan-bayangan
it uterus saja berkelebat dikepalaku, seolah mereka pun tak ingin berakhir.
Mereka, seperti aku, mungkin juga seperti kangmas, kami tak tahu apa yang bias
kami lakukan lagi. Kami pikir kami telah melakukan segalanya untuk
memperjuangkan penyatuan hati kami. Kami telah berusaha merangkai simpul-simpul
perbedaan yang memperindah jalinan kasih kami. Pada akhirnya tidak semua hal
akan seindah yang kami inginkan, bahkan cinta pun tak sanggup lagi menjembatani
perbedaan ini.
“Kangmas, bukankah Tuhan itu penuh kasih.
Tidak ada yang tidak bias dilakukan oleh Tuhan kan?” kata-kata itu keluar dari
bibirku yang terus bergetar menahan tangis.
Senyum lelaki itu mengembang. Bukan untuk
menunjukkan suasana hati yang membaik, itu hanya sekedar untuk menenagkankau.
Tanganya kemuia meraih tanganku. Menggenggamnya erat, seperti tak hendak
dilepas. Mata kami bertemu. Sendu.
“Cah ayu, aku tentu meminta pada Tuhan
dalam setiap do’a, dan aku yakin kau juga begitu. Tapi Cah ayu, terkadang
Kangmas juga ragu apakah kita meminta pada Tuhan yang sama.” Mulutnya kemudian
terkatup lama.
Aku mencermati kata-katanya, berusaha
menemukan maknanya. Aku mungkin tersesat dalam pencarian itu, atau aku memang
terhenti. Aku tak ingin mencari. Yah, benar. Apakah kami meminta pada Tuhan
yang sama? Bukankah karena cara kami memaknai Tuhan, cara kami mencintai Tuhan
yang membedakan kami? Dan perbedaan ini yang tak kami temui penyatuaanya.
Hingga kini.
Rasanya aku ingin tertawa saja. Tuhan kami
itu, memisahkan kami juga. Dan kalau Tuhan berkehendak, kami ini,
manusia-manusia yang tak mungkin menghindari takdir-Nya.
Pembicaraan-pembicaraan ini tak pernah
menemui akhir. Selalu berhenti di titik ini, berkali-kali, berputar-putar,
jalan buntu. Seperti mimpi, kami ingat sepotong-sepotong dan lupa sebagian.
Ternyata perbedaan yang indah itu tak selalu menyatukan, terkadang ia
benar-benar memisahkan, menciptakan jurang, meluaskan samudra dan jarak.
Dan pembicaraan ini hanya sampai disini,
kami mungkin menyerah kali ini, dan Tuhan, maafkan kami. Maafkan kami untuk
beberapa kali menafikan-Mu. Maafkan kami Tuhan.
“Cah ayu, aku akan tetap setia pada
Tuhanku, dan kau teruslah mencintai Tuhanmu. Kita tak harus menyatukan hati
kepada Tuhan yang sama penyebutannya, sama cara mencintainya, dan sama menujunya.
Aku tahu Cah ayu, Tuhan kita itu baik.” Itu kata-kata terakhirnya untuk menutup
perbincangan malam kami. Dan kami tak hendak bertanya mengapa kami berbeda dan
tentang Tuhan kami, biarlah kami belajar terus memahami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar